Showing posts with label Wisata Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Wisata Sejarah. Show all posts

Mendaki Puncak Tertinggi di Puncak Jaya

|| || ,, || 1 comments
Puncak Jaya , atau yang biasa disebut Gunung Carstensz atau Carstensz Pyramid, merupakan gunung tertinggi di pulau Papua, bahkan benua Australia dan Oseania. Ini adalah titik gunung tertinggi di antara Himalaya dan Andes dan puncak pulau tertinggi di dunia. Puncak ini terletak di Range Sudirman atau Dugunduguoo, di bagian barat tengah dataran tinggi Papua, setengah bagian barat pulau Indonesia, dan merupakan puncak tertinggi di negara ini.

Sejarah Puncak Jaya

Puncak Jaya awalnya disebut 'Carstensz Pyramid', setelah penjelajah Belanda Jan Carstensz yang pertama kali melihat gletser di puncak gunung pada hari yang cerah dan langka pada tahun 1623 (Carstensz diejek di Eropa ketika ia mengatakan ia telah melihat salju di dekat khatulistiwa ). Nama ini masih digunakan di kalangan pendaki gunung.Meskipun padang salju Puncak Jaya dicapai tahun 1909 oleh seorang penjelajah Belanda, Hendrik A. Lorentz, walaupun ia tidak naik sampai ke puncak. Lalu pada  tahun 1962, sebuah ekspedisi yang dipimpin oleh pendaki gunung dari Austria, Heinrich Harrer (selamaTujuh Tahun di Tibet telah memperoleh ketenaran) dengan tiga teman-temannya, Candi, Kippax  dan Huizenga menaklukkan Puncak Jaya .

Mendaki Puncak Jaya

Mendaki puncak tertinggi di Oceania dan salah satu yang terkenal di Dunia yang paling eksotis dan menantang dunia, Puncak Jaya memiliki tinggi 4,884 M dari permukaan laut di Irian Jaya, Indonesia. Dan kesempatan untuk menghabiskan waktu di daerah dataran tinggi tengah dan mengunjungi Penduduk setempat, yang di sebut juga Suku Dani, dan yang terkenal dari suku Dani, karena mereka umumnya masih sangat banyak yang kesehariannya masih hidup seperti di Zaman Batu. Untuk menikmati budaya yang luar biasa dan menemukan keindahan alam dan keajaiban Pulau Papua, sepertinya Anda layak mencobanya.

Puncak Jaya adalah gunung kapur yang besar, jika Anda mendaki gunung Puncak Jaya, maka sebaiknya melalui sebelah utaranya sebelum melanjutkan ke puncak. Sebagian besar para pendaki berebut untuk mancapai puncak, tetapi ada bagian teknis hingga 5,8 yang mempunyai kesulitan
tersendiri. Anda harus memperbaiki tali pada banyak rute untuk mencapai puncak gunung. Pendakian menuju puncak benar-benar sungguh menarik dan menantang, maka Anda sebaiknya memiliki persiapan yang matang sebelum melanjutkan ke puncak gunung. Anda harus memiliki beberapa pengalaman mendaki gunung sebelum datang ke Puncak Jaya (Carstensz Pyramid).

Lebih lanjut mengenai pendakian, ada 2 bagian pendakian, pertama-tama kita akan naik melalui sisi utara Dinding gunung melalui rute yang normal di mana kita tetap harus memiliki banyak tali untuk akses naik turun. Pendakian di dinding utara dari CP adalah sekitar 500 M di mana diperlukan jummaring up. Pendakian bebas tidak dianjurkan dalam hal keselamatan dan menggunakan jummar adalah sebuah kewajiban. Setelah kita bergerak maju di puncak punggungan, Anda akan sesekali melintasi jurang yang besar dan sangat dalam untuk mempercepat pendakian ke puncak gunung Puncak Jaya (Carstensz Pyramid) 4.884 M.

Izin dan Akses ke Puncak Jaya

Mengenai izin, karena Anda mungkin telah memperhatikan bahwa untuk menjalankan aturan pendakian Carstensz Pyramid Expedition, ada sejumlah izin yang berbeda kita harus mendapatkan melalui prosedur yang panjang dan rumit, surat referensi dari Negara Wisata Dept, Security Clearance dari ARMY Intelegence , Travelling Izin dari POLISI HQ dan beberapa dokumen lainnya. Tidak hanya untuk menyelesaikan prosedur, tapi ini semua diperlukan untuk memastikan apakah hal-hal yang tidak di inginkan terjadi selama ekspedisi Anda dari titik keamanan, pemerintah akan mengambil TANGGUNG JAWAB penuh.
-->

Sejarah dan Keunikan Tana Toraja

|| || , || 1 comments
Kuburan Gantung Tana Toraja
Tana Toraja adalah kelompok etnis pribumi di daerah pegunungan Sulawesi Selatan , Indonesia . Populasi mereka adalah sekitar 650.000 jiwa, dimana 450.000 masih tinggal di Kabupaten dari Tana Toraja ("Tanah Toraja"). Sebagian besar penduduknya  beragama Kristen , dan lainnya adalah Muslim atau memiliki kepercayaan animisme, keyakinan itu dikenal sebagai aluk. Pemerintah Indonesia telah mengakui kepercayaan ini sebagai animisme Aluk To Dolo ("Jalan Leluhur").

Kata toraja berasal dari bahasa Bugis, ke Riaja , yang berarti "orang dari dataran tinggi". Tana Toraja sangat terkenal karena ritual pemakaman mereka yang unik. Situs pemakamannya diukir ke tebing berbatu, serta rumah runcing yang beratap tradisional yang dikenal sebagai tongkonan , dengan berbagai  warna-warni di ukiran kayunya . Upacara pemakaman Toraja merupakan peristiwa sosial yang penting, biasanya dihadiri oleh ratusan orang dan berlangsung selama beberapa hari.

Sebelum abad ke-20, Toraja tinggal di otonomi desa, di mana mereka berlatih animisme dan relatif tak tersentuh oleh dunia luar. Pada awal 1900-an, misionaris  Belanda  pertama kali bekerja untuk mengkonversi Tana Toraja menjadi Kristen.  Kabupaten Tana Toraja selanjutnya dibuka untuk dunia luar pada tahun 1970, dan menjadi ikon pariwisata Indonesia, itu lalu dimanfaatkan oleh pengembang pariwisata dan dipelajari oleh antropolog .  Pada tahun 1990-an, ketika pariwisata memuncak, masyarakat Toraja telah berubah secara signifikan, dari kehidupan sosial dan kebiasaan yang Aluk To Dolo tersebut ke masyarakat yang sebagian besar Kristen.

Sejarah Tana Toraja

Ukiran Tana Toraja
Dari abad ke-17, perdagangan didirikan Belanda dan kontrol politik di Sulawesi melalui Perusahaan Hindia Timur Belanda . Selama dua abad, mereka mengabaikan daerah pegunungan di Sulawesi Tengah, di mana Toraja tinggal, karena akses yang sulit dan memiliki sedikit lahan pertanian produktif. Pada akhir abad ke-19, Belanda menjadi semakin khawatir tentang penyebaran Islam di Sulawesi selatan, terutama di kalangan masyarakat Makassar dan Bugis. Belanda lalu melihat dataran tinggi Tana Toraja yang masih memiliki paham animisme sebagai potensi untuk mengembangkan agama Kristen .

Pada tahun 1920, Aliansi Misionaris Reformed dari Gereja Reformasi Belanda mulai memberi tugas kepada misionaris untuk bekerja, dan dibantu oleh pemerintah kolonial Belanda untuk memperkenalkan agama Kristen. Tana Toraja adalah subdivisi dari kerajaan Luwu yang mengklaim wilayah tersebut.

Penyebaran Agama Kristen di Tana Toraja

Misionaris Belanda awalnya menghadapi oposisi yang kuat di antara Toraja, terutama di kalangan elit, karena penghapusan menguntungkan mereka, yaitu perdagangan budak telah membuat marah mereka. Beberapa penduduk Toraja dipaksa pindah ke dataran rendah oleh Belanda, di mana mereka bisa lebih mudah dikontrol. Pajak tetap tinggi, merusak kekayaan elit Toraja. Pada akhirnya, pengaruh Belanda tidak menundukkan budaya Toraja, dan hanya beberapa Toraja yang dikonversi .  Pada tahun 1950, hanya 10% dari populasi yang telah menjadi Kristen.

Pada 1930, dataran rendah Muslim menyerang Tana Toraja, sehingga pertobatan Kristen meluas di kalangan orang-orang yang berusaha untuk menyesuaikan diri dengan Belanda untuk perlindungan politik dan membentuk gerakan melawan Bugis dan Makassar Muslim. Antara 1951 dan 1965 (setelah kemerdekaan Indonesia ), Sulawesi Selatan menghadapi periode yang penuh gejolak seperti Darul Islam gerakan separatis berjuang untuk negara Islam di Sulawesi. 15 tahun perang gerilya menyebabkan konversi besar-besaran di Tana Toraja ke Kristen.

Penyesuaian dengan pemerintah Indonesia, bagaimanapun, tidak menjamin keamanan bagi Tana Toraja. Pada tahun 1965, sebuah keputusan presiden yang diperlukan setiap warga negara Indonesia milik salah satu dari lima agama yang diakui secara resmi, yaitu: Islam, Kristen ( Protestan dan Katolik ), Hindu , atau Buddha .  Keyakinan agama Toraja ( aluk ) tidak diakui secara hukum, dan orang Toraja mengangkat suara mereka melawan hukum. Untuk membuat aluk sesuai dengan hukum, itu harus diterima sebagai bagian dari salah satu agama resmi. Pada tahun 1969, Aluk To Dolo ("cara nenek moyang") disahkan sebagai sekte dari Agama Hindu Dharma , nama resmi Hindu di Indonesia.

Rumah Adat Tana Toraja

Rumah Adat Tana Toraja
Tongkonan adalah rumah leluhur tradisional Tana Toraja. Tongkonan berdiri tinggi pada tumpukan kayu, diatapi dengan split-lapis bambu, atap berbentuk busur melengkung menyapu, dan mereka menorehkan dengan warna merah, hitam, dan kuning di ukiran kayu yang rinci pada dinding eksteriornya. Kata "tongkonan" berasal dari Toraja tongkon ("duduk").

Tongkonan merupakan pusat kehidupan sosial Tana Toraja. Ritual yang terkait dengan tongkonan adalah ekspresi penting dari kehidupan spiritual Tana Toraja, dan karena itu semua anggota keluarga didorong untuk berpartisipasi, karena secara simbolis tongkonan merupakan penyambung ke nenek moyang mereka dan untuk hidup dan masa depan mereka.  Menurut mitos Toraja, yang Tongkonan pertama dibangun di surga dengan empat tiang, dengan atap yang terbuat dari  kain India. Ketika pertama kali leluhur Toraja turun ke bumi, dia membuat rumah dan mengadakan upacara besar.

Jenis Tongkonan Tana Toraja

Pembangunan tongkonan adalah pekerjaan melelahkan dan biasanya dilakukan dengan bantuan keluarga besar. Ada tiga jenis tongkonan .  Tongkonan Layuk adalah rumah otoritas tertinggi, yang digunakan sebagai "pusat pemerintahan".  Tongkonan pekamberan milik anggota keluarga yang memiliki beberapa otoritas dalam tradisi lokal . Sedangkan untuk anggota keluarga biasa tinggal di tongkonan batu . Eksklusivitas dengan bangsawan dari tongkonan berkurang setelah banyak penduduk Tana Toraja yang jelata mencari pekerjaan yang menguntungkan di daerah lain di Indonesia. Ketika mereka mengirim kembali uang untuk keluarga mereka, mereka memungkinkan membangun Tongkonan yang lebih besar.

Upacara Pemakaman Tana Toraja

Ritual Tana Toraja
Dalam masyarakat Tana Toraja, ritual pemakaman adalah acara yang paling sakral dan mahal. Yang kaya dan lebih kuat individunya, akan mendapatkan pemakaman yang mahal. Dalam aluk agama, hanya bangsawan yang memiliki hak untuk memiliki pesta pemakaman yang besar.  Kematian pesta bangsawan biasanya dihadiri oleh ribuan dan berlangsung selama beberapa hari. Sebuah situs upacara, yang disebut rante , biasanya dibuat dalam besar, lapangan rumput di mana tempat penampungan untuk pengunjung, lumbung, dan struktur pemakaman seremonial lainnya khusus dibuat oleh keluarga almarhum. Musik seruling, nyanyian pemakaman, lagu dan puisi, dan menangis dan meratap adalah ekspresi tradisional Toraja.

Upacara ini sering diadakan minggu, bulan, atau tahun setelah kematian seseorang sehingga keluarga almarhum dapat meningkatkan dana yang signifikan yang diperlukan untuk menutupi biaya pemakaman.  Toraja secara tradisional percaya bahwa kematian bukanlah tiba-tiba, acara tiba-tiba, melainkan suatu proses bertahap menuju Puya (tanah jiwa, atau akhirat ). Selama masa tunggu, tubuh almarhum dibungkus dalam beberapa lapisan kain dan disimpan di bawah tongkonan . Jiwa almarhum diperkirakan untuk berlama-lama di sekitar desa sampai upacara pemakaman selesai, setelah itu memulai perjalanannya ke Puya .

Penyembelihan di Upacara Ritual Tana Toraja

Komponen lain dari ritual adalah pembantaian kerbau . Semakin kaya orang yang meninggal, semakin banyak kerbau yang disembelih pada pesta kematian. Bangkai kerbau, termasuk kepala mereka, biasanya berbaris di lapangan menunggu pemiliknya, yang di "panggung tidur". Masyarakat Tana Toraja percaya bahwa almarhum akan membutuhkan kerbau untuk melakukan perjalanan dan bahwa mereka akan lebih cepat tiba di Puya jika mereka memiliki banyak kerbau.

Membantai puluhan kerbau dan ratusan babi menggunakan parang adalah klimaks dari pesta kematian yang sakral, dengan menari dan musik serta pemuda Tana Toraja yang mengambil darah dalam tabung bambu panjang. Beberapa hewan disembelih diberikan kepada tamu sebagai "hadiah", yang perlu dicatat, karena mereka akan dianggap utang kepada keluarga almarhum.  Namun, sabung ayam , yang dikenal sebagai bulangan Londong, merupakan bagian integral dari upacara . Seperti dengan pengorbanan kerbau dan babi, sabung ayam dianggap sakral karena melibatkan pertumpahan darah di bumi. Secara khusus, tradisi ini membutuhkan pengorbanan setidaknya tiga ayam .

Metode Penguburan di Tana Toraja

 Ada tiga metode penguburan yaitu peti mati dapat diletakkan di gua atau di kuburan batu berukir, atau tergantung di tebing .  Orang kaya sering dikuburkan dalam sebuah makam batu diukir dari tebing berbatu. Kuburan biasanya mahal dan membutuhkan waktu beberapa bulan untuk menyelesaikan. Di beberapa daerah, gua batu dapat ditemukan yang cukup besar untuk menampung seluruh keluarga. Sebuah kayu berukir patung , yang disebut Tau tau , biasanya ditempatkan di gua.  Peti mati dari bayi atau anak dapat digantung di tali pada tebing atau dari pohon. kuburan menggantung biasanya berlangsung selama bertahun-tahun, sampai tali membusuk dan peti mati jatuh ke tanah.

Dalam ritual yang disebut Ma'Nene , yang berlangsung setiap tahun pada bulan Agustus, jenazah almarhum yang digali untuk dicuci, lalu jenazah itu di berikan pakaian rapi dan mengenakan baju baru. Lalu mumi tersebut kemudian berjalan di sekitar desa.
-->

Gedong Songo: Pesona Candi di Lereng Gunung

|| || , || Leave a comments


Jalanan berkelok, naik turun, dan semilir angin yang menerobos jendela mobil akhirnya mengantar kami sampai di pelataran parkir. Candi Gedong Songo. Inilah tujuan kami. Wisata budaya berupa komplek candi yang berada di kaki gunung Ungaran, tepatnya di desa Candi, Kecamatan Ambarawa yang berjarak 9 km dari kota Ambarawa dan 12 km dari kota Ungaran.

Nama candi ini cukup unik: Gedong Songo. Nama diberikan ini menyembunyikan cerita sejarah yang cukup unik pula. Gedong Songo berasal dari kata Gedong yang berarti bangunan dan Songo yang berarti sembilan. Mulanya, kompleks candi ini diberi nama Gedong Pitoe. Dinamakan demikian karena ketika Raffles [1804] menemukan candi ini terdapat tujuh kelompok bangunan. Dalam ekspolorasi berikutnya, ditemukan tidak hanya tujuh bangunan, tetapi ada sembilan bangunan. Jadilah naman Gedong Songo. Sejarah pendirian kompleks candi ini belum diketahui secara pasti. Menilik dari bentuk seni bangunan, para ahli menafsirkan pendirian candi Gedong Songo hampir semasa dengan kompleks candi di Dieng yang dianggap candi Hindu tertua di Jawa Tengah. Dengan demikian candi Gedong Songo dibuat dalam kurun waktu abad ke VII -IX Masehi, pada masa pemerintahan Syailendra.

Keunikan Candi Gedong Songo


Keunikan lain dari candi ini adalah letak candi yang terletak di lereng gunung. Suguhan pemandangan yang indah dengan hawanya yang sejuk dan segar menjadi daya tarik untuk melepaskan kepenatan. Keberadaan taman-taman dan pohon-pohon yang rindang dapat menajdi sarana untuk beristirahat sembari menikmati suasana dan keindahan alam. Begitu masuk gerbang masuk, pepohonan yang rindang dan taman yang tertata rapi telah menyambut. Suasana khas pedesaan seolah menyingkirkan segala beban dan penatnya pekerjaan. Pikiran menjadi segar dan fresh.

Aktivitas Wisata di Candi Gedong Songo

Petuangan dimulai dari bagian paling bawah. Kelompok 1, hanya terdiri dari sebuah bangunan yang menghadap kebarat. Bangunan Candi terbagi tiga bagian yaitu kaki, tubuh dan bangunan. Bilik candi berdenah bujur sangkar dan tengahnya terdapat yoni atau patung Dewa Siwa. Pada bagian dalam dinding bilik terdapat relung-relung, yang pada saat ini sudah tidak ada arca-arcanya.

Kelompok II, terdiri dari 2 (dua) buah bangunan induk berhadapan dengan sebuah Candi Perwara yang telah runtuh. Bangunan induk ini dihiasi dengan pelipit pelipit yang menonjol keluar. Atap candi bertingkat dilengkapi menara sudut. Ada relung-relung kecil yang dihiasi dengan hiasan sosok tubuh seorang wanita yang sedang duduk dan sosok tubuh laki-laki.

Kelompok III, terletak yang lebih tinggi dibandingkan dengan letak candi kelompok I dan II. Kelompok candi ini terdiri dari tiga buah bangunan, yaitu sebuah candi induk yang menghadap ke barat, sebuah candi apit yang terletak di sebelah kanannya, dan sebuah candi perwara yang menghadap kearah candi induknya. Bangunan di kelompok ini masih utuh, termasuk hiasan-hiasan yang ada pada setiap relung.  Relung dinding candi sisi utara berisi arca Dhurga mahisasuramardhini, relung selatan berisi arca Agastya, dan relung timur berisi arca Ganeca. Pada dinding sebelah kiri-kanan pintu masuk juga terdapat relung yang juga terdapat arca Nandiswara dan juga Mahakala. Bilik utama candi pada saat ini sudah kosong.

Dari kompleks ini kita akan mencium bau belerang. Memang disela-sela antara Candi Gedong III dengan Gedong IV terdapat sebuah kepundan gunung sebagai sumber air panas. Kita dapat mandi dan menghangatkan tubuh di sebuah pemandian yang dibangun di dekat kepunden tersebut. Bau belerangnya cukup kuat dan kepulan asapnya lumayan tebal ketika mendekati sumber air panas tersebut. Kepundan ini menyembunyikan sebuah misteri. Menurut cerita penduduk sekitar, konon sumber air panas ini dijaga oleh makhluk bernama Nyai Gayatri. Nyai Gayatri adalah salah satu dayang dari Raja Sima. Setelah meninggal, arwah Nyai Gayatri mendiami mata air ini. Mitos yang banyak beredar, mata air ini dapat membantu menyembuhkan penyakit bagi orang yang mandi di mata air ini.

Dari kepundan ini, kita bisa melanjutkan perjalanan menuju bangunan ke empat. Kelompok IV, hanya tinggal sebuah candi induk yang menghadap ke barat. Di sebelah kanan-kiri pintu masuk terdapat relung-relung. Selanjutnya bangunan kelompok V. Kelompok bangunan terletak paling tinggi. Diperkirakan dahulu terdapat banyak bangunan. Namun kini tinggal sebuah bangunan saja. Candi induk kelompok V ini mempunyai keunikan yaitu pada bagian dalam kaki di isi dengan tanah. Isian tanah ini jelas berbeda dengan bangunan lain yang berisi batu.

Sejarah Candi Gedong Songo

Dari sembilan candi yang ada, yang masih utuh sekarang hanya tinggal 5 (lima) bangunan candi. 4 (empat) candi yang lain tinggal berupa berupa pondasi dan reruntuhan bangunan. Candi-candi itu telah mengalami pemugaran-pemugaran. Candi Gedong I dan Gedong II telah dipugar pada tahun 1928 - 1929 dan 1930 - 1931. Sedangkan candi Gedong III, IV dan V dipugar pada tahun 1977 - 1983 .

Menilik bentuk dan ornamen yang ada, Candi Gedong Songo merupakan kelompok percandian yang bercorak Hindu. Hal ini dapat diketahui berdasarkan arca dan relief yang menempati relung-relung bangunan candi. Seperti arca Ciwa Mahadewa , ciwa mahaguru, ganeca, durga mahisasuramardhini, nadiswara dan mahakala serta yoni yang terdapat pada bilik candi.

Meski lelah mengitari kompleks candi Gedong Songo ini, namun ada rasa puas dan nikmat. Keindahan yang dinikmati mengalahkan rasa lelah. Kami melepaskan lelah dengan beristirahat di bawah. Di sekitar kompleks candi kelompok I dibangun taman yang rapi dan pohon-pohon yang rindang. Anda bisa menikmati keindahan itu. Sembari menikmati jagung bakar, kami menghabiskan waktu sembari bercanda dan ngobrol dengan sang penjualnya. Meski pun kami tidak membawa tikar untuk alas duduk, namun kami tak perlu khawatir. Ada banyak penduduk yang menjual jasa menyewakan tikar.
-->

Mengenal Lebih Dekat Suku Baduy

|| || ,, || 1 comments

Tempat wisata ternama selalu menjadi tujuan untuk berlibur. Bagi Anda yang suka travelling, cobalah perjalanan ke Kampung Cibeo di Baduy Dalam, Banten. Kampung Cibeo adalah satu dari tiga kampung di Baduy Dalam (Baduy Kajeroan). Selain Cibeo, masih ada Kampung Cikartawana dan Kampung Cikeusik. Berjarak kurang lebih 120 kilometer dari Jakarta, kampung-kampung itu masih menjaga ketat adat istiadat.

Kampung-kampung di Baduy terletak di ketinggian 500-1.200 meter di atas permukaan laut dan berada di Pegunungan Kendeng yang merupakan daerah hulu Sungai Ciujung. Desa Ciboleger, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, adalah terminal wisata Baduy yang dibuka pada 1992 dan tempat terakhir kendaraan diperbolehkan masuk.

Pintu masuk utama menuju Baduy Dalam adalah Desa Kanekes di Baduy Luar. Jalur Kampung Kadu Keter pun boleh dicoba karena jarak tempuh akan lebih cepat ke Kampung Cibeo. Pulangnya kita bisa mencoba rute lain yang jaraknya dua kali lipat dengan melewati lebih banyak kampung, yaitu Cipaler,  Gajeboh,  Babakan Marengo, dan Babakan Balingbing.

 

Perjalanan Ke Baduy

Atau sebaliknya, mulailah perjalanan dari terminal terakhir, Ciboleger. Jalur ini akan melalui kampung Kadu Ketug, Babakan Balingbing, Babakan Marengo, Gazeboh, dan Cipaler, baru masuk Cibeo. Mengingat perjalanan cukup panjang, disarankan untuk beristirahat di kampung terdekat dengan perbatasan antara Baduy Luar dan Baduy Dalam, yaitu Babakan Balingbing, Marengo, atau Gajeboh. Jarak untuk sampai ke Gajeboh memakan waktu 1 jam 30 menit dengan perjalanan sangat santai. 

Saya selalu memilih Kampung Balingbing sebagai tempat peristirahatan pertama. Selain hanya berjarak 45 menit dari terminal, salah satu warga di kampung ini, Kang Sarpin, memiliki rumah yang besar dan kamar mandi plus water closet (oleh adat setempat, sebenarnya membangun kamar mandi dan WC ini terlarang!). Perjalanan menuju Cibeo dilanjutkan keesokan harinya. 

Setelah menempuh lima jam perjalanan melewati jalan setapak melintasi bukit-bukit, sungai, dan beberapa perkampungan Baduy Luar, sampailah kita di Kampung Cibeo. Tanda pembatas memasuki Kampung Cibeo hanyalah rumbai yang diikatkan pada pohon besar. Memasuki kawasan tersebut berarti semua larangan adat diberlakukan, salah satunya larangan memotret.

Ada 90 rumah panggung atau suhunan beratap rumbia berdiri berjajar berhadap-hadapan dengan bentuk sama. Paku dan besi buatan pabrik pantang dipakai, semua suhunan hanya diikat dengan ijuk atau dipasak dengan bambu. Gelas dan ember pun terbuat dari bambu. Tidak ada piring di kampung ini. Masyarakat Baduy dalam hanya diperbolehkan menggunakan mangkuk. 

 

Masyarakat Suku Baduy

Masyarakat Baduy, yang memiliki kepercayaan Sunda Wiwitan, ini dikenal berfilosofi sederhana, ”Pondok teu meunang disambung, nu lojor teu meunang dipotong” (yang pendek tak boleh disambung dan yang panjang tak boleh dipotong). Maknanya, orang Baduy pada dasarnya menerima alam sebagaimana adanya.

Masyarakat Baduy menjadi simbol kesederhanaan dan kejujuran. Bangunan rumah yang sangat sederhana, pakaian yang mereka kenakan, makanan yang mereka makan dan kebersamaan yang mereka bangun tidak lebih dari bentuk kesyukuran atas apa yang mereka terima dari Sang Kuasa.

Tidak ada televisi, tidak ada telepon (apalagi telepon seluler!), tidak ada internet, tidak ada alat-alat elektronik atau apa pun yang berbau kemodernan. Masyarakat Baduy Dalam hanya diperbolehkan menggunakan alat-alat rumah tangga yang sudah diatur oleh adat, di antaranya gelas untuk minum terbuat dari bambu, ember untuk mengangkut air—juga terbuat dari bamboo. Mereka memasak dengan tungku tradisional, dengan dandang dan kukusan, dan banyak lagi yang membedakan mereka dengan kehidupan modern. 

Baju yang mereka kenakan tidak diproduksi pabrik, tetapi dijahit dengan tangan. Kain sebagai pengganti celana juga hasil tenun sendiri. Umumnya masyarakat Baduy Dalam seragam dalam berpakaian: mengenakan baju warna putih dan kain berwarna biru dengan ikat kepala putih (untuk laki-laki) dan gelang yang terbuat dari tali akar pohon sebagai tolak bala (penangkal musibah). Dan tidak satu pun di antara mereka yang menggunakan sandal sebagai alas kaki.

 

Kehidupan Sehari-hari Suku Baduy


Kehidupan sehari-sehari masyarakat Baduy banyak dihabiskan di ladang, terutama oleh kaum perempuannya. Tapi tidak banyak yang mereka tanam. Hanya padi dan beberapa jenis pohon buah-buahan yang diperbolehkan oleh adat saja, salah satunya umbi-umbian dan buah durian.

Selain ke ladang, kaum laki-laki Baduy banyak menghabiskan waktu dengan membuat kerajinan seperti tas, gelang tolak bala, aksesori yang terbuat dari kulit kayu yang dirajut. Sebagian lagi pergi ke hutan mencari lebah untuk membuat madu atau membuat nira (gula merah). Jangan ditanya bagaimana rasanya madu Baduy dalam, dijamin cespleng!

Pada waktu-waktu senggang perempuan-perempuan Baduy menenun kain sarung atau selendang. Pemandangan ini hanya dapat ditemui pada waktu menunggu musim panen atau musim tanam usai. Dari memintal benang hingga menenun dilakukan para perempuan masyarakat Baduy di teras rumahnya. 

Setelah jadi, selendang dan sarung Baduy ditawarkan kepada para pelancong. Harganya bervariasi, antara Rp25.000 sampai 30.000. Dengan bahan yang lebih banyak, kain sarung tenun khas Baduy ditawarkan seharga Rp70.000. Harga itu sama sekali tidak mahal. Maklum saja, bahan kimia untuk mewarnai benang didapat dari kota, dan ongkos ke kota bagi mereka cukup mahal. Pengerjaan kain selendang, apalagi kain sarungnya, butuh waktu selama kurang lebih dua minggu.
    
Bukan hanya apa yang mereka pakai yang diatur oleh adat, rambut hingga rumah mereka pun ditentukan. Rambut laki-laki masyarakat Baduy Dalam tidak boleh dipotong sembarang dan kepala mereka harus diikat kain khusus. Rumah mereka harus berdiri tegak sejajar tanpa jendela.

Mereka tidak memakan sembarang makanan. Padi yang mereka tanam harus padi organik (tanpa pupuk). Semua tanaman masyarakat Baduy tidak menggunakan pupuk. Binatang ternak yang boleh dimakan orang-orang Baduy hanya ayam. Dalam setiap upacara adat seperti pesta pernikahan, melahirkan, sunatan, hingga kematian, ayam menjadi sajian utama.  

Ayam dan telurnya diperlakukan berbeda pada saat Kawaluh. Dalam setahun, menurut pola penanggalan mereka, ada tiga bulan tertentu yang mereka sebut sebagai bulan suci. Masing-masing satu hari dari tiga bulan khusus ini mereka gunakan untuk berpuasa, termasuk berpantang memakan ayam dan telurnya. Hari dan tanggalnya tak tentu, tergantung petunjuk tetua adat. Itulah Kawaluh.

Puasa Kawaluh tidak serumit aturan umat Islam di bulan Ramadan, misalnya. Mereka berpuasa dari pagi sampai sore pada hari-hari tertentu itu dan hanya dilarang memakan makanan pendamping utama mereka: ayam dan telurnya. Aturan mengenai makanan yang lain tetap berlaku. Ayam dan telur ini aturan khusus untuk hari khusus dan bulan khusus bagi mereka.

Pada hari puasa ketiga di bulan suci semuanya menjadi jelas. Pada saat berbuka puasa hari puasa ketiga Kawaluh ini masyarakat Baduy justru diwajibkan memakan ayam dan telurnya. Kita pun jadi tahu bahwa ayam dan telur ayam akan menjadi menu utama pada puncak sekaligus penutupan bulan suci Kawaluh. 

Dalam berbagai keyakinan, makanan, minuman, atau sesuatu yang menyenangkan hendaknya dipantang pada saat-saat tertentu sebagai jalan menuju kesucian. Di dalam berbagai keyakinan juga ada saat manusia merayakan hari-hari tertentu yang dianggap penting. Dua hal ini menyatu dalam Kawaluh dengan ayam dan telurnya.


Suku Baduy Luar


Masyarakat Baduy Luar pada dasarnya memiliki aturan adat yang tidak banyak berbeda dengan Baduy Dalam. Hanya aturan di sini sedikit lebih longgar.

Anak-anak Baduy Luar kini diperbolehkan mengenakan celana jins, kaos, dan sandal layaknya anak-anak kota. Jejaring sosial seperti Facebook juga sudah dikenal. Artinya, budaya modern yang selama ini dinikmati masyarakat kota sudah mulai dirasakan oleh masyarakat Baduy Luar. Telepon genggam, radio, celana pendek, kaos, sandal kini menjadi tren anak muda Baduy.

Bagaimanapun, adat yang mereka yakini masih kental dalam keseharian mereka. Bangunan rumah yang terbuat dari kayu dan bambu dan tungku besar masih belum berubah. Kesederhanaan dan kebersamaan mereka juga belum banyak berubah.

Sarpin, ayah dua anak warga Kampung Balingbing, Baduy Luar, sengaja membangun rumah dengan ukuran yang luar biasa besar untuk menyediakan para pelancong yang mau menikmati kehidupan masyarakat Baduy tanpa bayaran sepeser pun. Bukan hanya itu, Sarpin juga membangun dua kamar mandi yang disediakan untuk umum di belakang rumahnya.

Para pelancong yang akan menuju Baduy Dalam umumnya singgah satu malam di Baduy Luar di kampung Gajeboh, Babakan Marengo, atau Balingbing. Bagi yang tidak biasa pergi ke sungai dan membutuhkan kamar mandi yang layak hanya bisa memenuhi kebutuhan dasar itu di kamar mandi kediaman Kang Sarpin. 

Membaca & MenulisMasyarakat Baduy tidak diperbolehkan oleh adat untuk mendapatkan pendidikan dari bangku sekolah. Anak-anak Baduy sejak kecil dididik untuk berladang. Hal itu tampak dari permainan mereka, ngasek padi (menanam padi). Permainan ini butuh kekompakan dan ketepatan dalam pembagian peran. Sebagian anak laki-laki mematok tanah dengan kayu dan anak perempuan menebar benihnya. Sebagian anak laki-laki lainnya mengiringi dolanan ini dengan musik angklung dan gendang.     

Mereka hanya mendengar dan melihat. Meski begitu, sebagian masyarakat Baduy bisa membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Bila mereka memaksakan untuk mengenyam pendidikan formal, mereka diharuskan meninggalkan adat dan tentu harus keluar dari warga Baduy.

Mungkin karena larangan adat itu, justru minat belajar mereka cukup tinggi. Setiap ada pendatang (turis lokal) mereka antusias meminta diajari menulis dan membaca bahkan belajar bahasa asing (bahasa Inggris).

Mulyono salah satunya, pemuda tanggung berusia 16 tahun ini memiliki ketertarikan yang luar biasa untuk belajar bahasa Inggris. Sepanjang pengalaman saya menuju Baduy Dalam (Cibeo), Mulyono tidak jarang melontarkan pertanyaan dengan bahasa Inggris yang tengah ia pelajari.

Mulyono adalah satu contoh warga Baduy Luar yang mendobrak paradigma bahwa tidak sekolah bukan berarti tidak bisa membaca dan menulis.    


Magis dan Kuburan Bila malam menjelang perkampungan Baduy gelap gulita. Tidak ada pelita, tidak ada lampu teplok, obor, apalagi lampu neon. Masyarakat baduy tidak diperbolehkan menggunakan energi yang didapat dengan cara canggih seperti listrik. Mereka juga tidak mau ada kebakaran di kampung. Karena itu mereka memilih bergelap-gelapan pada malam hari. 

Dengan aturan adat yang ketat, dengan perkampungan yang senyap, gelap malam menjadi magis. Suasana magis pasti menyerang siap pun yang berkunjung ke Baduy, terutama pada malam harinya. Magi semacam ini rasanya hanya kita temukan di pekuburan yang seram, yang kerap dicuplik oleh film-film nasional sebagai pembentuk suasana horor. 

Dengan persepsi modern dan cenderung salah kaprah itu, saya lantas bertanya kepada warga setempat, di mana lokasi pekuburan orang-orang Baduy yang sudah meninggal?
”Tidak ada,” jawab pendamping perjalanan saya. Tentu ini mengherankan.
”Dibakar?” kejar saya.
”Orang-orang yang mati itu dikubur di ladang keluarganya masing-masing. Tapi bila tujuh hari sudah berlalu, kuburan itu kembali boleh kami olah. Kami tanami tumbuhan yang biasa kami tanam di ladang.” 

Jawaban itu meyakinkan karena terbukti pada siang hari tidak dapat saya temukan kompleks pekuburan sebagaimana perkampungan di tempat-tempat lain. Tampaknya mereka sadar benar bahwa lahir, hidup, dan mati adalah siklus alami yang tidak perlu direpotkan, ”Yang pendek tak boleh disambung dan yang panjang tak boleh dipotong.” Sederhana saja.

Buktinya, tanpa kuburan pun mereka tetap magis. Dengan sederhana saja mereka tetap tangguh. 


Tips Menuju Baduy

Bagaimana menuju Baduy? Mudah saja. Bagi anda yang memiliki kendaraan pribadi dianjurkan melewati tol Jakarta-Merak, keluar tol Serang Timur dan melewati Serang Kota menuju Rangkasbitung. Mobil pribadi dapat dititipkan kepada warga sekitar terminal terakhir di Kampung Ciboleger.
 
Pengguna kendaraan umum sebaiknya menggunakan kereta api tujuan Tanah Abang-Rangkasbitung. Untuk jurusan ini harga tiket kereta api kelas ekonomi Rp2.000, kelas ekonomi ekspres Rp4.000. Perjalanan kereta ini memakan waktu dua jam. Dari stasiun kereta menuju terminal Aweh, menggunakan angkutan umum berwarna merah dengan ongkos Rp3.000. 
 
Dari terminal Aweh menuju Ciboleger butuhkan waktu perjalanan selama 2 jam sampai 2 jam 30 menit, bergantung pada laju kendaraan. Tarif yang diberlakukan pun berbeda-beda, tergantung banyak atau sedikitnya penumpang. Harga terendah Rp13.000, bila penumpang penuh; harga dapat berubah-ubah menjadi Rp15.000 sampai Rp25.000, disesuakan dengan jumlah penumpang.  Pun, angkutan umum ini beroperasi pada pukul 5 pagi hingga pukul 3 sore saja.
 
Setiba di Ciboleger, Anda sebaiknya menemui Lurah atao Jaro Daenah untuk mengisi buku tamu sebagai pengunjung. Bila Anda tiba larut malam dan tidak ingin melanjutkan perjalanan, masyarakat Baduy menyediakan rumah singgah dengan fasilitas alakadarnya. Bisa juga menginap di rumah makan satu-satunya di Ciboleger, rumah makan Ibu Yati, juga dengan fasilitas alakadarnya dan biaya sukarela. 
 
Namun bila Anda tetap melanjutkan perjalanan, masyarakat Baduy yang Anda jumpai dengan sukarela akan membantu menjadi porter. Mereka akan membawakan barang bawaan Anda sampai tujuan dengan tips seikhlas Anda.

Biasanya pelancong akan memilih Kampung Gajeboh sebagai persinggahan pertama karena kampung ini adalah kampung terakhir Baduy Luar yang berbatasan dengan Baduy Dalam, hanya dipisahkan oleh sungai dan jembatan gantung yang terbuat dari bambu. Namun tidak sedikit pelancong yang memilih singgah di Kampung Balingbing. Mengingat kampung ini adalah kampung pertama yang dijumpai setelah melakukan perjalan kurang lebih satu jam dari Ciboleger. 
-->

Sumber : blog-wisataindonesia.blogspot.com

Mengenal Sejarah Benteng Pendem

|| || || Leave a comments
Salah satu obyek wisata di Cilacap adalah Benteng Pendem. Benteng yang berdiri di atas 6,5 hektare ini terletak di bagian tenggara Cilacap, masih di areal pantai Teluk Penyu di kelurahan Cilacap. Makanya tidak aneh bila letak Benteng Pendem berhadapan dengan pantai.

Suasana ramai langsung terlihat saat memasuki areal pantai Teluk Penyu.Banyak orang yang datang sekadar untuk menikmati deburan ombak dan memancing di atas jembatan pemecah ombak. Ada juga yang datang untuk menikmati lezatnya makanan olahan berbahan ikan, seperti ikan bakar atau ikan goreng.

Lokasi Benteng Pendem


Menurut informasi yang kami dapat dari pariwisata.cilacapkab.go.id Benteng Pendem terletak di bagian tenggara kota Cilacap, ujung Timur Pantai Teluk Penyu di wilayah Kelurahan Cilacap. Di sekitar Benteng Pendem bagian Selatan adalah Samudra Indonesia, Selatan Selat Nusakambangan (pintu masuknya kapal ke / dari Pelabuhan Alam Tanjung Intan), sebelah Barat Kantor Pertamina Area 70, sebelah Utara tangki – tangki penampungan bahan minyak mentah Pertamina UP IV Cilacap yang berada di Area 70.

Tiba di Benteng Pendem hari sudah sore. Karcis masuk yang harus dibayar sebesar Rp. 4.000 / orang. Bapak Wistan, petugas yang berjaga sore itu, bersedia menemani kami berkeliling. Benteng Pendem merupakan benteng pertahanan Belanda yang dibangun secara bertahap antara tahun 1840 sampai dengan 1877. Terdapat 14 barak, terowongan, ruang penjara, ruang amunisi, benteng pengintai, gudang senjata dan ruang penting lain untuk pertahanan yang dikelilingi oleh pagar dan parit. Bangunan bentengnya sendiri tertimbun tanah sedalam 1 hingga 3 meter. Karena itu lah dinamakan Benteng Pendem.


Halaman Benteng Pendem

Berkeliling kawasan Benteng Pendem kami tak hanya melihat barak atau terowongan namun juga sumur-sumur tua yang masih ada airnya meski air tersebut tidak layak digunakan. Ada pula taman bermain, tempat berjualan cinderamata dan gazebo. Di halaman benteng pengintai yang letaknya agak tinggi terlihat beberapa ekor rusa tampak tenang merumput. Lingkungan Benteng Pendem cukup terawat dan bersih, tidak terlihat sampah dan rumput di taman tampak terpangkas rapi.
Sebenarnya masih banyak yang bisa dilihat, tapi benteng memang hampir tutup ketika kami datang. Lagipula matahari sudah meredup. Saatnya pulang. Semoga esok hari masih banyak cerita yang bisa dibagi untuk Anda semua, masyarakat Indonesia. -->
Sumber : blog-wisataindonesia.blogspot.com

Keindahan Pulau Banda Neira

|| || , || 2 comments
Banda Neira adalah salah satu pulau terbesar di kepulauan Banda yang terletak di bagian tenggara pulau Ambon,tepatnya sekitar 140 km ke arah selatan pulau Seram dan 2000 km ke arah timur dari pulau Jawa.Karena Pulau ini mempunyai daratan yang sangat luas,Banda Neira lalu di jadikan kota pelabuhan yang sangat besar di kepulauan Banda.

Banda Neira adalah tempat yang sangat indah untuk di kunjungi karena dikelilingi oleh pantai dan pemandangan alam yang sangat memukau.Sangat banyak turis dari berbagai mancanegara yang telah berkunjung ka Banda Neira dan mereka sangat menyukai dan jatuh cinta pada pulau ini,dan tidak sedikit dari mereka akan kembali berkunjung ke tempat ini.

Sejarah Dan Keunikan Banda Neira

Banda Neira adalah salah satu bagian dari provinsi Maluku  dan memiliki populasi kurang lebih 14.000 jiwa saja.Awalnya dahulu kala seorang Bangsa Portugis yang bernama Antonio De Abreu menemukan rempah-rempah di pulau ini pada tahun 1512, dan dari sinilah awalnya rempah-rempah mulai di gunakan oleh masyarakat Dunia untuk dijadikan bumbu masakan.Lezatnya pala dan pedasnya lada membuat bangsa kolonial tersebut datang berbondong-bondong ke bumi Nusantara untuk menguasai pulau Banda Neira yang mempunyai hasil rempah-rempah yang sangat kaya.

Belanda adalah kolonial pertama yang membangun kota di Banda Neira yaitu Dutch East India Company.Tujuan mereka awalnya hanya ingin berdagang,akan tetapi setelah melihat kekayaan rempah-rempah hasil dari pulau Banda Neira ini,mereka lalu berniat menguasai pulau ini intuk mengamankan rempah-rempah di pulau ini.Karena begitu banyaknya cerita dan sejarah yang pernah terjadi pulau ini membuat banyak turis lokal maupun mancanegara yang penasaran ingin mengunjungi pulau Banda Neira untuk mengenal sejarah dan keindahan pulau ini.

Rumah Budaya Di Banda Neira

Banda Neira mempunyai rumah budaya bersejarah yang terletak di jalan Gereja Tua.Dahulu kala bangunan ini adalah villa milik seorang petinggi Belanda dan saat ini telah dijadikan sebagai Museum.Di tempat ini terdapat berbagai koleksi peninggalan sejarah berupa Meriam,helm kuno,peta,mata uang kuno,dan juga berbagai lukisan –lukisan yang menggambarkan tentang peperangan di masa lampau.Dan tidak hanya lukisan saja,sejarah masa lalu Banda Neira juga tergambar pada piorama-piorama yang ada di museum ini.

Benteng Peninggalan Portugis Dan Belanda

Banda Neira juga mempunyai peninggalan bersejarah yaitu benteng Nassau,yang merupakan benteng peninggalan Belanda yang awalnya di bangun oleh bangsa Portugis pada tahun 1529.Pembangunan benteng ini tidak selesai pada waktu itu di karenakan Portugis kala itu berpusat di Ternate dan di gempur oleh pasukan Belanda dan akhirnya menyerah pada Belanda.Akibatnya mau tidak mau mereka harus meninggalkan pulau Banda Neira ini.Pembangunan benteng ini kemudian di lanjutkan dan di selesaikan oleh Belanda,tapi sayangnya saat ini hanya tersisa 3 buah dinding dan sebuah pintu gerbang utama yang tersisa dari peninggalan benteng ini.

Rumah tempo doeloe di Banda Neira

Dahulu Banda Neira pernah di tinggali Pahlawan-pahlawan yang di buang di pulau ini,diantaranya Sutan Syahrir,Muhammad Hatta,dan Dr. Cipto Mangunkusumo.Rumah-rumah mereka ini masih di lengkapi dengan perabotan dan perkakas mereka tempo dulu,dan masih bisa kita nikmati sejarah dan mengingat perjuangan para Pahlawan kita yang rela bersabar demi memperjuangkan Indonesia.

Wisata di Banda Neira

Selain Bangunan-bangunan bersejarah yang berbau kolonial dan bergaya eropa,Anda juga bisa berkunjung ke perkebunan Pala Lantaka,Mangkubata,Fort Belgica,Banda Prison,Bintang Revenge,dan juga Dutch Palace sebagai tempat tujuan wisata darat yang memiliki keindahan pemandangan dan sangat unik di berbagai titiknya.Tempat-tempat di Banda Neira ini sangat layak Anda kunjungi bersama pasangan Anda untuk membuat kenangan yang tak terlupakan sampai kapanpun.

Mendaki Gunung Banda Neira

Banda Neira mempunyai pemandangan alam yang indah yang bisa Anda nikmati bersama teman-teman ataupun pasangan Anda yaitu Gunung Barapi.Gunung vulkanik yang masih aktif ini mempunyai ketinggian 650 meter dari permukaan laut.Gunung Berapi ini sudah beberapa kali meletus,letusan dahsyatnya yang terakhir terjadi pada tahun 1988 yang memakan 3 korban jiwa dan meluluh lantakkan 300 buah rumah penduduk yang berada di sekitar gunung itu.

Tapi Anda tidak usah khawatir,karena saat ini kondisi gunung tersebut sudah stabil dan aman untuk di kunjungi,sehingga anda bisa menikmati keindahan dan merasakan sensasi kemolekan reliefnya.Anda juga bisa menikmati hiking sampai ke puncak gunung yang memakan waktu kurang lebih 1,5 jam.

Indahnya Pantai Banda Neira

Di Banda Neira,selain menikmati wisata darat,anda juga bisa menikmati keindahan pantainya yang begitu bersih dan tenang,bagi anda yang sangat senang dengan keindahan laut,anda bisa menikmati indahnya pantai Banda Neira dengan sepuas hati.Pantai yang di juluki masih Perawan ini sangat cocok anda nikmati bersama pasangan ataupun keluarga anda,apalagi jika anda adalah pasangan yang sedang berbulan madu,maka anda sangat cocok jika berkunjung ketempat ini.

Di pantai Banda Neira ini,anda dan pasangan bisa menikmati hamparan pasir putih,pantai yang tenang dan air yang sangat jernih dan bersih.Walaupun anda hanya duduk di hamparan pasir putih yang luas dan bersih,anda bisa menikmati desiran ombak serta angin dan daun-daun kelapa yang melambai-lambai di bibir pantai,Sungguh pemandangan yang sangat menakjubkan.Anda dan pasangan bisa lepas sejenak dari berbagai kesibukan di tengah kota anda.Tak salah jika Banda Neira termasuk tujuan wisata paling favorit yang paling banyak diminati turis lokal dan mancanegara

Diving Dan Snorkeling di Banda Neira

Di Bagian pantai Banda Neira ini juga memiliki pemandangan bawah laut yang tak kalah indahnya dengan tempat lain semisal Bunaken.Keunikannya terletak di batu karang yang di sebelah utara pulau.Lautnya juga menjadi salah satu spot terbaik untuk Scuba Diving atau Snorkeling,selain sebelah barat dan utara Banda besar dan Banda Neira.

Selain itu,tempat Scuba Diving atau Snorkeling yang luar biasa juga bisa anda temukan di Salamun Tanjung Burang, Ay Island, Run Island, Nailaka Island, Skaru, dan juga Hatta Island,yang bukan hanya memiliki keindahan bawah laut yang banyak di incar oleh para penyelam di seluruh Dunia,tetapi juga memiliki pemandangan dengan hamparan pasir putih yang luas dan sangat indah.

Pemandangan bawah laut Banda Neira tak kalah di bandingkan dengan tempat lainnya.Air yang jernih memudahkan kita untuk melihat ikan-ikan yang berenang dan juga terumbu karang yang sangat indah,cukup dengan Snorkeling ataupun dengan bertelanjang mata dari atas laut,maka kita sudah bisa menikmati keindahan yang di suguhkannya.

Ayo!jangan tunggu lagi,segera berkunjung ke Banda Neira dan nikmati semua keindahan yang ditawarkan baik itu darat maupun laut.
-->